
Perjalanan seorang mualaf mereka yang baru memeluk agama Islam sering kali diwarnai dengan ujian, pencarian jati diri yang mendalam, hingga akhirnya menemukan kedamaian batin. Berikut adalah kisah inspiratif mengenai lika-liku pencarian hidayah: Kisah ini bermula dari seorang wanita bernama Marwah (nama samaran), yang sejak kecil tumbuh di lingkungan keluarga non-Muslim yang taat. Meski rajin beribadah dan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, ia kerap merasakan kehampaan dan berbagai pertanyaan filosofis di kepalanya yang tidak pernah terjawab. Baginya, banyak konsep ketuhanan yang terasa membingungkan, termasuk perihal trinitas dan dosa warisan.
Puncak pencariannya terjadi ketika ia berteman dengan seorang Muslim. Awalnya, sering berdebat mengenai konsep ketuhanan. Namun, ia kagum melihat ketenangan, kerendahan hati, dan cara temannya selalu menyisihkan waktu untuk berdoa (salat) di sela-sela kesibukan mereka.
Penasaran, Marwah mulai membaca terjemahan Al-Qur'an dan berbagai buku literatur Islam. Ia terpukau dengan konsep tauhid yang sangat murni dan logis: bahwa Tuhan itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Baginya, ajaran Islam sangat selaras dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan, serta memberikan pedoman hidup yang sangat jelas mengenai tujuan penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian. Meskipun telah menemukan kebenaran, perjalanan Marwah tidaklah mudah. Ia harus menghadapi konflik batin yang luar biasa, terutama ketakutan akan reaksi keluarga besarnya. Namun, setelah melalui doa yang panjang, ia membulatkan tekad. Dengan ditemani oleh seorang ustaz di sebuah yayasan pembinaan mualaf terdekat, Marwah mantap mengucapkan dua kalimat syahadat. Seketika itu juga, ia merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban berat yang selama ini mengganjal di hatinya terangkat. Ia merasa terlahir kembali sebagai pribadi yang bersih tanpa dosa.
Marwah juga harus beradaptasi dengan rutinitas baru, mulai dari belajar tata cara salat lima waktu, puasa, hingga belajar menutup aurat. Banyak mualaf, termasuk Marwah membutuhkan waktu dan bimbingan untuk menyesuaikan diri dengan identitas Muslim mereka. Beruntung, ia bergabung dengan komunitas pendampingan mualaf yang memberikan ruang aman untuk belajar tanpa dihakimi.
Bagi Marwah, menjadi mualaf bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari proses belajar seumur hidup. Ia menyadari bahwa hidayah adalah anugerah termahal yang harus dijaga dengan terus memperdalam ilmu agama.
Dengan kepedulian baznas KSB semua muallaf dirangkul dalam bingkai persaudaraan dan memberi akses agar terus belajar untuk menetapkan hati pada agama yang dipilihnya baznas terus melakukan pembinaan terhadap muallaf agar hatinya tetap teguh dan kuat. Selain itu baznas KSB juga memberikan bantuan berupa santunan kebutuhan dasar bagi muallaf dan modal usaha mikro muallaf agar mereka bisa mandiri.
Pimpinan Redaksi
H.Tabrani MS,S.IP.,M.Si
Wakil Ketua 3 Baznas KSB